Advertisements

Summary Q &A seputar kepemilikan property untuk WNA


Ini lanjutan dari postingan saya beberapa waktu lalu terkait kepemilikan property untuk pasangan campur dan atas izin mbak Lea Purnama Gesang dan Mbak Itha Guest dari postingan Group Komunitas Kawin Campur  untuk di share ulang, dengan postingan dalam bentuk question dan answer kayak gini kan jadi enak memahaminya bisa cepat……….saya saja masih banyak belajar memahami undang undang terkait masalah ini .

Halo teman-teman KKC,

Banyak diantara pelaku kawin campur yang masih belum memahami manfaat dan tujuan Prenuptial Agreement/Perjanjian Pranikah.  Dibawah ini adalah Q & A berdasarkan pertanyaan beberapa member.  Dijelaskan oleh Lea Purnama Gesang yang dirangkum dari berbagai sumber.  Semoga tulisan membantu teman2  lebih memahami Perjanjian Pranikah.

Qsaya beli tanah 2 bln yg lalu dan sertifikatx masih sementara dalam proses pemecahan dari sertifikat induk kira-kira akhir maret ini baru selesai, untuk SHM atau HGB saya tidak  ngerti status apa kalo sudah dapat sertifikatnya SHM atau HGB maklum dear saya kurang ilmu mengenai agraria , thanks before ya .

 A: dulu namanya agraria , sekarang udah jadi BPN ( Badan Pertahanan Negara ), sebelum ‘pecah surat’ status property nya (sertifikat induk) SHM ato HGB ya Mbak?

A1: disertifikat induknya HGB

A: kalau sertifikat induk HGB, kemungkinan pecahannya juga HGB, jadi secara UU pertanahan mbak cuma punya hak untuk membangun (menggunakan bangunan) saja, tapi tidak berhak atas tanahnya, dalam hal ini tanah dikuasai oleh negara sesuai namanya, Hak Guna Bangun atau HGB itu mesti di perpanjang ijin nya secara periodik, ada yg tiap 25th, ada yang per 20 tahun.

===================

Q: kalau saya sudah dapat sertifikat yang status HGB apa bisa saya ajukan untuk status SHM?

A: kalau untuk di tingkatkan ke SHM gak bisa Mbak, sebab Mbak adalah pasangan kawin campur, malah kalau beli property dengan status SHM diawal maka hak nya akan berubah jadi HGB secara otomatis 

===================

Q: Aduuh mending saya jual tanahnya

 A: gak harus buru-buru juga sih Mbak, itukan investasi Mbak  dan keluarga, gak cuma pelaku KC aja koq Mbak, yang non KC juga, kalau beli tanah dan property di kawasan sentra bisnis juga di kenakan Hak Guna Bangun, misalnya  : daerah perkantoran, kayak kawasan Sudirman atau kantor-kantor  di sepanjang jalan kwitang senen, bahkan pengembang perumahan juga cuma bisa HGB aja, nanti kalau udah ada yg beli, baru si pembeli bisa tingkatkan jadi hak milik ( SHM )

===================

 Q: Rencana mau beli tanah+bikin bangunan… Tapi deg-degan, kalau saya pake nama bapak saya waktu beli,dan langsung ke notaris untuk di hibahkan ke saya bagaimana?.  Atau di hibahkan ke anak saya saja?karena anak saya WNI masalahnya umurnya masih 5 tahun apa bisa? Saya deg degan..saya takut, jgn sampai tanah yang saya beli dengan keringat, akhirnya jd milik negara… kan ngenes jadinya..

 A: kalau Mbak  beli nya pakai nama orang tua misalnya  ayah, atau saudara  yang lain bisa aja, tapi jangan langsung di ‘hibah’, sebab kalau yang model begini baik notaris atau BPN sudah hapal modus ini. 

Mbak  jangan lupa penghibahan dari orang tua ke Mbak, sementara status Mbak  sudah menikah, maka data pasangan juga ditanyakan notaris.  Nah harta hibah itu masuk dalam katagori harta perolehan ( harta benda yang diperoleh masing-masing suami istri sebagai hadiah atau warisan).

Untuk harta bawaan dan harta perolehan tetap dikuasai masing-masing pihak sesuai dengan hak siapa masing-masing harta tersebut, terkecuali ada penyatuan harta karena perjanjian.

Dalam hal yang demikian maka penyelesaian/pembagiannya disesuaikan dengan isi perjanjian dan kepatutan yang berlaku.

 Untuk hibahkan ke anak,  belum bisa mengatakan anak hasil KC ( Kawin Campur )  sebagai WNI, sebab usianya belum dianggap ‘cakap hukum’ ( usia 18+) , sebab sesuai UU kewarga negaraan yang baru, anak hasil KC bisa punya dwi kewarganagaraan koq.

nanti kalau sudah usia  18  tahun baru boleh pilih kewarganegaraan mana yg mau di ikutinya

sebagai catatan nih, tanah HGB itu memang milik negara, tapi bisa diperjual belikan koq, sama kayak  SHM, apalagi kalau yang beli nanti WNI tulen, maka status HGB  bisa ditingkatkan oleh pembeli baru kepad  Status hak milik ( SHM ).

===================

Q: Iya Mbak  mau beli atas nama ortu saja… Jadi tidak bisa langsung ya..Trus harus nunggu berapa lama biar bisa aman??  Trus kalau aeandainya saya pakai nama kakak bagaimana?

Dengan cara apa beliau bisa memberikan tanah tersebut kepada saya? Mohon pencerahannya ya?

 A: kalau beli atas nama ortu, maka status property adalah SHM, selama bukan di wilayah sentra bisnis, kalau di wilayah perumahan biasa akan dapat status hak milik ( SHM ).  kalau Mbak khawatir, terjadi apa-apa  sama ortu sebab usia, maka sebaiknya di rembukan dulu sama semua saudara, kalau Mbak  mau ‘nabung’ atas nama ortu, supaya jika terjadi hal yang tidak di inginkan, maka property atas nama ortu itu tidak serta merta dianggap sebagai warisan, jangan lupa juga untuk buat surat kesepakatan dengan ortu dan saudara yang lain, yang isinya menyatakan bahwa penguasaan properti itu adalah hak Mbak sepenuhnya.

nanti notaris akan buat editorialnya, Mbak  cuma kasih tau saja, mau seperti apa isi perjanjiannya

===================

Q: Anak bawaan saya WNI makannya saya mau mengatas namakan anak saya,  bisa gak Mbak walai  masi umur 5 tahun?

 A: bisa Mbak,  bikin akta waris untuk putranya  yang pertama di notaris biayanya gak mahal koq,  jangan lupa sebutkan klausul dalam akta warisnya, misalnya : dana baru bisa dipakai kalau sang anak sudah berusia 18+ tahun, atau  sebelum 18 tapi sudah nikah, atau  misalnya : dananya bisa dipakai kalau sang anak mau kuliah dan sebagainya.  Dana di sini maksudnya property yang sudah diwariskan dan sang ahli waris berniat menjualnya.  Kalau saran ku, mending buat perjanjiannya di hadapan notaris aja,  lebih kuat secara hukum, biaya buat perjanjian gitu gak mahal koq, hmm.. kira-kira  msh di bawah 5 juta, Mbak  harus ingat ya, biaya notaris itu bisa ditawar koq

===================

 Q: Kalau  seandainya setelah beli dan ayah langsung membuat pernyataan di atas materai yang mengatakan kalau beliau wafat akan meghibahkan harta kepada saya dan semua saudara tanda tangan untuk menyetujui bgaimana Mbak ?Walau belum ke notaris, apa itu juga sah secara hukum??

 A: iya mbak, rembukan dulu aja sama saudara, b ceritain situasinya, kalau beli pake nama mbak  dengan  status bsaat ini, maka akan banyak kendala di kemudian hari, aku rasa saudara-saudara  bakal paham deh, selain status property bisa SHM karena nama ortu, yang tentu saja jika di jual kembali harganya bisa lebih mahal dari HGB, Mbak  juga bisa tenang karena bukan termasuk harta bersama

===================

Q: Dalam jangka berapa lama  hal ini akan aman untuk ortu untuk saya? Kalo langsung bisa dicurigai?

 A: kebijakan itu selalu berubah tergantung siapa yg berkuasa saat itu, lain presiden lain juga kebijakannya, untuk hal ini Mbak bisa konsultasi dengan  notaris yang ditunjuk, peraturan pemerintah yang baru seperti apa, tapi inikan jelang pemilu ya, gimana kalau kita tunggu dulu siapa yang menang pemilu

contonya gini : dulu jaman fauzi wibowo (foke), gubernur lama DKI, PBB kan naik terus tuh tiap tahun, tapi waktu  jaman jokowi bisa turun loh, belum ada kan sejarahnya dari mulai gubernur pertama (Heng Ngantung), ada pajak yg diturunkan,  tapi per februari 2014 kemarin harga NJOP yang tertera di PBB, tanah di DKI sudah naik 120-240% itu artinya harga-harga properti meroket 2-3 kali lipat.  Nah sekarang kan Jokowi nyapres nih, kalau dia menang atau siapa pun yang menang nanti, semua kebijakan juga pasti akan berubah juga

===================

Q: Saya punya tanah, beli sebelum nikah dan tdk punya prenup. Jd itu status tanah saya gimana ya? Seandainya akan saya jual apakah nanti bermasalah?

 A: Undang-Undang Perkawinan membedakan harta benda dalam perkawinan menjadi tiga macam,

  • pertama harta bersama ( harta benda yang diperoleh selama perkawinan),
  • kedua harta bawaan ( harta yang dibawa oleh masing-masing suami istri ketika terjadi perkawinan),
  • harta perolehan ( harta benda yang diperoleh masing-masing suami istri sebagai hadiah atau warisan).

Untuk harta bawaan dan harta perolehan tetap dikuasai masing-masing pihak sesuai dengan hak siapa masing-masing harta tersebut, terkecuali ada penyatuan harta karena perjanjian.

 Dalam hal yang demikian maka penyelesaian/pembagiannya disesuaikan dengan isi perjanjian dan kepatutan yang berlaku.

===================

Q: Semoga kita semua gak salah piljh pemimpin ya Mbak, dan semoga dwi warga negara bisa segera terealisasi, berasa jadi anak tiri di negeri sndiri..

A: kalau bunda punya anak dari perkawinan campuran dengan  WNA dan anak tersebut lahir sesudah 1 agustus 2006 keatas, maka otomatis sudah punya yang namanya kewarganegaraan ganda terbatas.

Apakah yang dimaksud dengan status kewarganegaraan ganda terbatas?

Status kewarganegaraan ganda terbatas adalah status dwi (dua) kewarganegaraan yang diberikan kepada seorang anak hingga anak tersebut mencapai usia 18 (delapan belas) tahun.

terus Mengapa batas waktu status perolehan kewarganegaraan dimulai sejak tanggal 1 Agustus 2006?

Batas waktu status perolehan kewarganegaraan dimulai sejak tanggal 1 Agustus 2006 karena pada tanggal tersebut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia mulai disyahkan, dan tidak berlaku mundur.

===================

Q: Jadi status tanah saya masih tetap SHM, meskipun saya sudah menikah dengan WNA? Karena  yang saya tahu, status tanah saya jadi SHGB hanya karena saya nikah dengan  WNA dan tidak ada prenup. Jadi bingung juga saya dengan  status tanah saya itu. Jadi sampai sekarang tidak berani saya utak-atik itu tanah.

 A: sebetulnya tidak bisa berubah buh, kan bunda belinya waktu belum nikah, dan termasuk harta bawaan, btw berubahnya sejak kapan ya bun?

A1: Statusnya sich Blm berubah mbak Lea….di sertifikat masih tertera SHM. Cuma Beberapa Kali pernah di bahas di sini Dan group lainnya, kalau Nanti pas kita akan Jual sama notarisnya akan ditanya prenup, kalau tdk ada bakal kena masalah…. makanya saya jd bingung dan takut.

 A: berarti bagus bun kalau masih SHM dan mamang seharus nya seperti itu, masalah kalau jual susah, mungkin yang dimaksud ibu ibu  KKC adalah status harta ‘milk bersama’ bun.  mudah-mudahan bunda gak terpengaruh ya, sama komen yang bikin hati ciut.  Bunda bisa jual property itu kapan aja bunda mau, dengan atau  tanpa persetujuan pasangan, kalau pun melibatkan pasangan kita, sifatnya cuma mengetahui aja koq.  Seperti yang aku bilang di atas bun, emang agak rancu juga antara UU perkawinan sama undang-undang pertanahan, tapi percaya deh keduanya  memiliki definisi yang berbeda.

misalnya begini  : Ayat 21 pasal 3 UUPA

———————-

Orang asing yang sesudah berlakunya undang-undang ini memperoleh hak milik karena pewarisan tanpa wasiat atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pula warga negara Indonesia yang mempunyai hak milik dan setelah berlakunya undang-undang ini kehilangan kewarganegaraannya wajib melepaskan hak itu di dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilangnya kewarganegaraan itu.

Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau hak milik itu tidak dilepaskan, maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada Negara, dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung.

——————————–

artinya gini bun, UUPA itu kan diterbitkan tahun  1960, jadi kalau bunda nikah di atas tahun 1960, misalnya nikah tahun  1961 dst dan tidak kehilangan kewarganegara-an sbg WNI, maka status hak milik nya gak akan berubah

kalau  bunda nikah th 1961 dst, trus bunda memutuskan melepas status WNI bunda menjadi WNA, bunda harus lepaskan aset bunda itu, misalnya  dijual atau di hibahkan pada ortu atau  saudara dalam jangka waktu 1th

kalau  sudah lewat dari 1tahun, setelah bunda jadi WNA, dan bunda tidak lepaskan asetnya, maka akan menjadi milik negara atau hapus demi hukum

===================

Q: 1. Misalnya setelah menikah, saya mendapat warisan dan saya ga punya prenup, bagaimana warisan tsb bisa  jadi  HM atau HGB saja?

2. Misalnya saya menikah diluar negeri dan punya prenup pisah harta, apakah saat saya register di Indonesia,Tanggal pernikahan mengacu tanggal  nikah di luar negeri? Jika tidak apa bisa saya buat prenup di Indo sebelum registerdi Indonesia? Jika Tanggal registerasi  mengacu sesuai tanggal pernikahan diluar negeri apa saya tetep bisa buat prenup atau tidak?

A: 1. kalau  bunda dapat waris setelah nikah, meski status awalnya SHM, otomatis turun ke HGB bun, artinya bunda harus perpanjang sertifikatnya secara berkala misalnya  : tiap 20 th ato 30 th

 nah katagorinya masuk harta perolehan ( harta benda yang diperoleh masing-masing suami istri sebagai hadiah atau warisan).

 Untuk harta bawaan dan harta perolehan tetap dikuasai masing-masing pihak sesuai dengan hak siapa masing-masing harta tersebut, terkecuali ada penyatuan harta karena perjanjian.

Dalam hal yang demikian maka penyelesaian/pembagiannya disesuaikan dengan isi perjanjian dan kepatutan yang berlaku.

bunda bisa tetap perjual belikan properti tsb, dan kalau calon pembelinya WNI, bunda bisa infokan, bahwa statusnya bisa di tingkatkan ke SHM, sebab tidak terikat perkawinan campur

 kalau calon pembelinya WNA tulen (investor asing), maka status properti akan berubah ke HGP (hak guna pakai)

———————————

2. misalnya bunda nikah tgl 10 januari 2014, nah pernupnya harus sebelum tanggal itu bun, kan prenuptian agreement (perjanjian pra nikah), jadi tanggalnya gak bisa di atas tgl itu, acuannya ttp SEBELUM tanggal pernikahan bunda di LN

 bunda bisa melaporkan pernup nya kepada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Indonesia dalam kurun waktu 1 (satu) tahun (pasal 73 Perpres No. 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk Dan Pencatatan Sipil).  klu dah lewat tanggalnya bunda gak bisa bikin prenup lagi

===================

Q: Aku nikah tanpa prenup, ada harta yg diwariskan dari ortu ke aku,setelah pernikahan, status SHM brarti sekarang status nya jadi HGB? Lalu baik nya, di hibah kan ke saudara sebelum di jual? atau ada saran yg lain? Krn HGB kan harga jualnya turun jauh

 A: bisa bunda hibahkan dulu ke saudara, kemudian di tingkatkan statusnya dr HGB ke SHM trus baru di sale tapi pastikan saudara bunda itu bisa dipercaya, kalau gak nanti jadi selisih paham loh, misa;mya : bunda bikin perjanjian tertulis sama saudara bunda itu, tentang term dan kondisinya, supaya tidak ada one prestasi (menang sendiri)

bunda juga bisa jual langsung tuh, kalau calon pembelinya WNI, bunda bisa infokan, bahwa statusnya bisa di tingkatkan ke SHM, sebab tidak terikat perkawinan campur, kalau calon pembelinya WNA tulen (investor asing), maka status properti akan berubah ke HGP (hak guna pakai)

===================

Q: Apakah benar kalau mau menikah dengan WNA, dan saya di ajak hidup di negaranya , benarkahkah saya akan kehilangan hak jadi warga negara Indonesia .

 A: kalau Menurut UU Kewarganegaraan No.62 Tahun 1958, Ada dua bentuk perkawinan campuran tuh bun

yang pertama Pria Warga Negara Asing (WNA) menikah dengan Wanita Warga NegaraIndonesia (WNI) dan

yg ke-2 Wanita Warga Negara Asing (WNA) yang menikah dengan Pria Warga Negara Indonesia (WNI)

nah kita bahas yg no.1 aja ya bun

 Berdasarkan pasal 8 UU No.62 tahun 1958, seorang perempuan warga negara Indonesia yang kawin dengan seorang asing bisa kehilangan kewarganegaraannya, apabila selama waktu satu tahun ia menyatakan keterangan untuk itu, kecuali apabila dengan kehilangan kewarganegaraan tersebut, ia menjadi tanpa kewarganegaraan (apatride).  Apabila suami WNA bila ingin memperoleh kewarganegaraan Indonesia maka harus memenuhi persyaratan yang ditentukan bagi WNA biasa.

 btw tambahan aja nih bun, buat bunda yg msh risau ttng isi UUPA Pasal 21 ayat (3) UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria yg menyebut

“……perempuan WNI yang terikat perkawinan sah dengan laki-laki WNA, memperoleh hak-hak atas tanah berupa Hak Milik, Hak Guna Bangunan Hak Guna Usaha, baik karena pewarisan, peralihan hak melalui jual beli, hibah atau wasiat, maka dia wajib melepaskan hak-haknya dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak-hak tersebut…”

emang rada2 ‘serem’ ya bun

 tapi pengaturan tersebut berlaku ketika status kewarga-negaraan dalam perkawinan campuran masih diatur menurut Ketentuan UU Kewarganegaraan yang lama. (UU No.62 tahun 1958).  Dengan lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru, ( UU No. 12 Tahun 2006) terjadi sedikit perubahan ketentuan menyangkut harta bawaaan. 

 Kalau  UU Kewarganegaraan yang lama mengharuskan pihak istri yang berstatus WNI dalam perkawinan campuran untuk melepaskan hak milik yang telah dimiliki sebelum perkawinan campuran dilangsungkan sebagai aikbat dari konsekuensi yuridis berupa kehilangan kewarganegaraan.

 Nah setelah berlakunya UU Kewarganegaraan yang baru, Hak Milik, Hak Guna Bangunan (HGB), maupun Hak Strata Title atas harta bawaan istri yang berstatus WNI tetaplah diakui sebagai harta yang berada di bwah penguasaan masing-masing.

 Hal ini dikarenakan oleh adanya perbedaan ketentuan yang menyangkut status kewarganegaraan antara UU Kewarga-negaraan yang lama dengan UU Kewarganegaraan yang baru.

===================

Q : Sebelum menikah saya memiliki rumah status SHM, setelah menikahi WNA  tapi  tidak punya prenup gimana status rumah saya?

 A: turun jadi status  HGB, dan dianggap jadi ‘harta bersama’ kecuali lapor diri tetap dalam  WNI nya, gak ganti kewarganegaraan suami, kaau nikahnya setelah 2006, harta bawaan sebelum nikah jadi milik masing2 dan bukan harta bersama

===================

Q: Saya menikah 2010 mba, apakah amannya balik nama saudara atau orang tua?

 A: Kalau istilah notarisnya namanya perjanjian nominee, artinya pinjam nama, bunda beli proprty pakai nama orang lain tapi  hak penguasaannya tetap ada di tangan bunda

 hak penguasaan dimaksud adalah : untuk di jual kembali, untuk di jadikan agunan bank, atau di gadaikan

 itu semua bisa bunda lakukan, meski status tanah atas nama orang lain (nama pinjaman)

===================

Q: Bila pasangan kapur memiliki prenup dan membeli property setelah menikah atas nama istri/WNI, misalnya status awal SHM, apakah statusnya harus tetap diturunkan?

 A: iya bun tetap turun jd HGB, kadang bisa tetap SHM kalau  bisa berargumen ttng uu kewarganegaraan th 2006 itu kan setelah uu itu disahkan maka, harta bawaan sebelum nikah atau  setelah nikah tapi  pakai nama istri/WNI, maka hak penguasaannya tetap milk istri/WNI, kecuali ada kesepakatan lain sama suami

 kalau notarisnya ngotot di uu 1958, mba bilang aja udah gak berlaku, udah di ganti sama yg th 2006

 kalau notarisnya merujuk pada uu agraria, mba bisa bilang uu itu berlaku untuk uu kewarganegaraan 1958, dan tidak berlaku untuk uu th 2006

===================

Q: Mengikuti uu 1958 turun status. kalo berpadanan pada uu 2006 bisa tetap SHM. begitukah mba?

 A: harusnya begitu, tapo kadang kala penafsiran notaris terhadap UU  itu berbeda, jadi mesti pinter beragumentasi paling jelek nya ya turun deh jadi HGB dari pada hapus demi hukum kayak  di UU agraria itu.  Jangan lupa mba, tanya coba tunjukan UU yang baru setelah uu 2006, kalau notaris gak bisa buktikan, mba keukeuh di uu 2006

===================

Q: WNI yang menikah dengan  WNA dan punya property di Indonesia hasil perkawinan mereka tidak punya prenup, masalahnya bukan bercerai tapi si WNA meninggal terus jadi gemana dengan property tersebut

 A: Kalau tanpa pernup kan hartanya jd ‘harta bersama’ atau  harta bulat maka jika suami meninggal dunia, berlakulah hukum waris kalau bunda beragama islam maka mengacu kepada HKI (hukum kompilasi islam) mengenai pembagian warisan

 kalau menurut Menurut KUH Perdata, prinsip dari pewarisan adalah:

  •  Harta Waris baru terbuka (dapat diwariskan kepada pihak lain) apabila terjadinya suatu kematian. (Pasal 830 KUHPerdata);
  • Adanya hubungan darah di antara pewaris dan ahli waris, kecuali untuk suami atau isteri dari pewaris. (Pasal 832 KUHPerdata), dengan ketentuan mereka masih terikat dalam perkawinan ketika pewaris meninggal dunia.

 Artinya,  kalau mereka sudah bercerai pada saat pewaris meninggal dunia, maka suami/isteri tersebut bukan merupakan ahli waris dari pewaris. Berdasarkan prinsip tersebut, maka yang berhak mewaris hanyalah orang-orang yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris. Baik itu berupa keturunan langsung maupun orang tua, saudara, nenek/kakek atau keturunannya dari saudara-saudaranya. Sehingga, apabila dimasukkan dalam kategori, maka yang berhak mewaris ada empat golongan besar, yaitu:

 1. Golongan I: suami/isteri yang hidup terlama dan anak/keturunannya (Pasal 852 KUHPerdata).
2. Golongan II: orang tua dan saudara kandung Pewaris
3. Golongan III: Keluarga dalam garis lurus ke atas sesudah bapak dan ibu pewaris
4. Golongan IV: Paman dan bibi pewaris baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu, keturunan paman dan bibi sampai derajat keenam dihitung dari pewaris, saudara dari kakek dan nenek beserta keturunannya, sampai derajat keenam dihitung dari pewaris.

Mengapa ahli waris dibagi ke dalam 4 golongan ini?

Golongan ahli waris ini menunjukkan siapa ahli waris yang lebih didahulukan berdasarkan urutannya.

 Artinya, ahli waris golongan II tidak bisa mewarisi harta peninggalan pewaris dalam hal ahli waris golongan I masih ada.

——————————

Nah demikian summary Q & A yang postingan ini sangat banyak peminat dan penanyanya… beberapa intisari yang bisa diambil dari rangkuman panjang pertanyaan ini adalah sbb :

  • Pelaku kawin campur tak perlu kawatir atas kepemilikan property di Indonesia, bahwa sang WNI masih bisa kok beli property namun statunya hanya HGB saja, bisa mendapatkan property dengan SHM namun harus kekeh berargumen dengan notaris soal UU Agraria nya. Apalagi kalau notarisnya sudah kenal dan bisa mendengarkan argumen kita.
  • Suami/ Istri WNA juga bisa kok beli property dengan status HGB  juga.
  • Harta bawaan tetap aman bisa di jual kembali walaupun terjadi pernikahan campur tanpa pre enup cuma kalau SHM turun status jadi HGB ya pasti harga nya juga turun sih.
  • Ternyata yang banyak bikin kita bingung terkait pernikahan campur dengan kepemilikan property ini mengacu pada UU Agraria dan UU Imigrasi. Kadang kontradiksi karena perubahan UU tidak selamanya sejalan. Sama juga lah masalah izin kerja WNA yang terkait dalam  3 UU, UU Keimigrasian, UU Ketenagakerjaan dan PERDA Catatan Sipil dan POLRI, jadi kalau ada perubahan UU tentang Imigrasi yang izinkan WNA bisa  kerja di sektor informal tapi ternyata pada UU ketenaga kerjaan tetap mewajibkan WNA bisa kerja dengan IMTA / work permit. Jadinya sangat rancu dan membingungkan, sepanjang kita mengerti semuanya maka kita akan  bisa jelaskan ke pihak terkait masalah ini. Makanya jadi istri WNA mesti kuat nih cari informasi update biar tak terzolimi 😀
  • Untuk yang pelaku kapur yang mau punya aset dalam bentuk SHM ya mesti pinjam nama saudara alias buat perjanjian Prominee dengan klausul detail, jadi dalam sertifikat tersebut nama tertera boleh keluarga terpercaya dan buat perjanjian prominee di notaris yang isinya penguasaan penuh pada aset/ property SHM atas nama si X ini ada sepenuhnya pada anda dan sewaktu waktu bisa di sewakan atau di jual. So bagi yang masih kawatir tak bisa beli aset karena lupa pre enup sekarang sudah bisa toh……….!!!!!! 🙂

Demikian sekelumit tentang kepemilikan property untuk pasangan kawin campur di Indonesia ……….

 

 

Advertisements

Tagged: , ,

31 thoughts on “Summary Q &A seputar kepemilikan property untuk WNA

  1. Firsty Chrysant May 4, 2014 at 2:54 pm Reply

    Assalamu alaikum
    Salam kenal Mba e

    wow… ternyata rumit juga ya Mba, soal kepemilikan tanah atau rumah bagi wanita yang bersuamikan orang luar ya… ^^

    • siti May 4, 2014 at 2:59 pm Reply

      hai mbak salam kenal thanks telah mampir kesini , iya memang agak rumit mesti banyak menggali informasi biar gak ribet aja di kemudian hari.. kalau sudah tahu UU nya enak kok..sisa di jelaskan ke pihak terkait mau ke notaris, ke kanim, or ke capil yang penting pegangannnya sudah tahu..biar tak kena pungli or di bodoh2 in………..

      • Firsty Chrysant May 4, 2014 at 3:02 pm

        Iya mba… harus tau dan mengerti biar ngga diakalin ya… 🙂

  2. nyonyasepatu May 4, 2014 at 4:33 pm Reply

    Di medan masih bebas2 aja yg kawin campur punya property hehe

    • siti May 4, 2014 at 11:42 pm Reply

      iya Non, kebanyakan tergantung notarisnya… ada yang begitu adem adem aja langsung beli ada juga yang agak ribet karena notaris nya mungkin lebih paham …

  3. Itha Guest May 5, 2014 at 1:41 pm Reply

    Hi mba Siti, ga sengaja nih nemu blog nya

    • siti May 5, 2014 at 1:44 pm Reply

      Wahhh mbak Itha Guest, welcome to my blog, he he aku dah share sengaja ku posting kesini biar gak lupa kalo butuh sesuatu sisa click n teman2 KC banyak nanya berulang thanks untuk sharingnya ya mbak, dan izin share summary tema diatas….

  4. raden October 5, 2014 at 9:32 am Reply

    Kalau seandainya dalam kawin campur yg meninggl WNInya,,dantidak punya perjanjian pranikah,,,apakah bisa hakwaris di berikan keanak atau istri.kebetulan istri saya orang turki,,,.tenk

    • siti October 6, 2014 at 5:45 am Reply

      nah itu dia masalahnya mas, misal yang diwariskan dari harta mana kan bercampur sama WNA, Makanya harus ada alas nya ( perjanjian pranikah ) … saya belum tahu solusinya sampai saat ini…

  5. asty December 17, 2014 at 7:56 am Reply

    salam kenal, sy asty di palembang. Sy menikah dgn seorang wna thn 2013 dan tidak punya prenup. Tahun ini Kami beli property bersertifikat shm atas nama ayah sy, rencana nanti stlh 1 atau 2 thn ayah sy akan *menghibahkan* property itu ke sy. Apa kira2 nanti status property itu msh bisa Shm? Makasih

    • siti December 19, 2014 at 1:54 am Reply

      saya rasa bisa kok, nah yang masalah adalah apakah proses hibahnya akan mulus, karena proses hibah melibatkan saudara saudara mbak Asty untuk tanda tangan dan kedua orang tua ,..untuk SHM dari proses hibah bisa kok..

  6. asty December 24, 2014 at 9:03 am Reply

    thanks ya mba siti. Saudara yg dimaksud hanya saudara kandung kan mba? Sy hanya punya satu adek kandung, dan dia sdng mengalami gangguan jiwa apa sy perlu tanda tangan darinya jg? Makasih

    • siti December 25, 2014 at 6:21 am Reply

      iya saudara kandung.., tentu perlu tanda tangannya … juga

      • sandra November 4, 2015 at 9:17 am

        mba, gangguan jiwa bukannya perlu pengampu. Dianggap gak cakap hukum mba. Untuk status yang wni beli tanah hanya bisa SHGB itu dasar hukumnya apa ya mba? Saya cari di UU Kewarganegaraan yang baru tahun 2006 kok g ada ya? apakah yang diuaraikan dalam blog ini untuk mensiasati saja ya? Saya bingung antara uu dengan praktik

  7. asty December 31, 2014 at 11:08 pm Reply

    kl pakai prominee perlu tanda tangan saudara kandung ga mba? Makasih

    • siti January 1, 2015 at 1:17 am Reply

      kalau setahuku pakai prominee tak perlu pakai tanda tangan saudara..tapi silhkan langsung tanya detailnya ke notaris ya mbak.. aku belum expert kalau masalah ini soalnya belum pernah melakukan…………

  8. Rita January 7, 2015 at 6:00 pm Reply

    Hallo mbak Siti salam kenal dari China maaf saya mau tanya… 2 bulan yang lalu saya menikah di kantor catatan sipil hongkong ( suami WNA perancis ) jujur saya sangat buta tentang hukum jadi kami menikah tanpa membuat prenup dan yang saya khawatirkan suatu hari nanti bisakah kami membeli properti di indonesia atas nama saya? dan bagaimana tentang hak milik?

    terima kasih banyak sebelumya

    • siti January 8, 2015 at 1:48 pm Reply

      berarti mbak bisa beli property di Indonesia tapi cuma Hak Pakai bukan hak milik.. kalau mau SHM ya nebeng nama keluarga atau yang bisa di percaya

      • Rita January 9, 2015 at 2:52 pm

        terima kasih banyak mbak atas jawabanya, bearti itu property hak pakai tidak bisa di wariskan ke anak2 kami nantinya?

  9. ani February 14, 2015 at 6:53 pm Reply

    mba siti ..minta email nya ya..balas ke email saya ..tks

  10. Nabila July 15, 2015 at 5:24 am Reply

    Mbak Siti, makasih banyak infonya.. sungguh membantu saya. cuman kasus sy sedikit beda, krn waktu nikah kami berdua masih WNI dan nikah di catatan sipil Jakarta. Setelah menikah bbrp thn suami pindah menjadi WNA, kebetulan negara baru suami saya ini tidak mengharuskan saya pindah kewarganegaraan juga shg alhamdulilah saya masih WNI.
    Kami tidak punya prenup dan domisili kami tidak di Indonesia lagi.
    Baru-baru ini saya menerima hibah rumah Jakarta (SHM) dari almarhum ayah, apakah UUPA Pasal 21 ayat (3) UU No. 5 Tahun 1960 berlaku juga untuk kasus saya? Apakah saya harus jual/hibah rumah dalam waktu 1 thn sejak ayah meninggal dan SHM turun jadi HGB?

    • siti July 22, 2015 at 1:37 pm Reply

      wah mbak Nabila, maaf rada lama balasnya, habis pulkamp dan menikmati kebersamaan tanpa gadget.. wah untuk kasus mbak ini saya pelajari dan tanyakan sama ahlinya ya bingung belum pernah nemu yang beginian..

  11. Dedy July 19, 2016 at 5:36 pm Reply

    Mbak Siti,,sy punya om tinggal di amrik dan menikah dg warga sana. Stlh menikah, om sy beli rumah di Indonesia dg status SHM (saat itu kewarganegaraan om saya msh WNI). Sktr 25 th stlh beli rmh, om sy ingin menjual rmh tsb dg cara memberi kuasa kpd saya utk menjualkannya. Yg jd mslh, saat mau menjual rmh tsb, om sy sdh jd WNA. Boleh dan bisakah saya menjual rmh tsb ? Kl bisa, apa syarat2nya ? Kl tdk bisa, bgmn kl om sy menghibahkan rmh tsb kpd sy spy bisa dijual, sbg jln keluarnya ? Apak status tanah jg berubah stlh om sy jd WNA ? Terima kasih.

    • siti July 19, 2016 at 11:15 pm Reply

      wah pertanyannya temanya berat nih saya tanya kan ke notaris ku dulu yahh nti saya salah jawab berabe…

  12. Widya Handayani September 17, 2016 at 10:03 am Reply

    Heloo mba Siti .. nebeng tanya doong..
    Langsung aja ya.. saya wni nikah dengan lelaki wna..suami saya cacat sebelum kami nikah dan tidak ada income dan kami tidak punya anak ..karena saya yang bekerja sejak tinggal di netherland dan menabung..akhirnya kami sekarang tinggal di Indonesia dan saya membeli rumah dan tanah hasil tabungan saya… !Yang saya mau tanyakan maaf .. apabila suami saya yang wna ini meninggal dunia itu bagaimana ya harta propertynya?
    Apakah menjadi milik istrinya/saya?
    Thaanks

    • siti September 17, 2016 at 10:37 am Reply

      wah WNA gak bisa punya property di INDONESIA mbak.. kalau WNA nya meninggal maka haknya diambil oleh negara… itu UUD di Indonesia ,..

  13. ozil October 12, 2016 at 10:06 am Reply

    helo mbak Siti
    saya mau nanya…kalau misal suami WNI istrinya WNA……harta campur tidak ada preneup….kalau misal beli property an suami sertipikatnya bagaimana ya? trims

    • siti October 15, 2016 at 9:13 am Reply

      suami tak bisa beli property dengan SHM yang bisa hanya SHGB saja..

  14. Ai October 17, 2016 at 8:41 pm Reply

    Salam kenal ba siti,nama saya ai …..mau tanya apa itu preneup ??? n saya mau tanya,saya punya rumah status SHM n saya menikah dengan WNA tp saya tetap WNI apakah rumah saya akan di ambil Pemerintah klu saya tdk ganti nama keluarga saya n apakah rumah saya bisa saya waris Khan ke anak ,terima kasih byk

    • siti October 22, 2016 at 1:43 pm Reply

      pre enup adalah perjanjian pra nikah alias sebelum menikah.. , kalau menikah dengan wna dan sebelum nikah ada perjanjian maka tak masalah anda bs beli shm / tanah dll.. tapi kalau tidak ya, aturannya setelah 1 tahun harta yang ada harus dialihkan ke pemerintah..karena dianggap harta bercampur wna dan wna tak bs memiliki property disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Life

Intermittent Fasting & Ketogenic

franyfatmaningrum

frany WordPress.com site

Life is a Rollercoaster

My Blog, My Stories

Thekitten

Indonesian Story

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

American & Indonesian = US

All about Our Life, he is American & I am Indonesian

%d bloggers like this: