Advertisements

kasih ibu


Foto by MB

My Mother in law, Foto by MB

Karena ini masih nuansa hari ibu, mari kita bahasa soal kasih ibu,  euphoria menunjukkan kasih sayang ke ibu bisa dilihat di  semua sosmed penuh foto bersama ibunda masing masing. Kalau aku mau posting khusus tentang ibu saya dan ibu mertua saya, nah kebetulan ibu dan bapak saya serta salah satu kakak lelaki saya  dan istrinya lagi datang ke Makassar nih,  jadi rumah imut kami jadi rame, saya senang sekali kalau ibu saya datang, selain akan banyak menolong mengurusin rumah, bayangkan saja setelah solat subuh ibu saya sudah di dapur dan entah ngerjain apa sampai jam  6 pagi dapur dah kinclong,  semua diatur rapi, padahal perasaan saya sudah seharian ngesot di dapur membereskan sebelum mereka datang, uhhh ternyata itu belum di taraf rapi 😦 ,  ibu selalu luar biasa deh kalau urusin dapur, bapak saya pagi sekali  beres-beres depan rumah,  agendanya sebenarnya sudah lama mau kesini cuma karena ibu dan bapak saya sibuk sekali sejak ada cucunya, jadinya tertunda terus,  jadinya week end ini bakalan senang-senangkan hati orang tua, MB akan ngajak reflexi buat bokap dan nanti bagian saya ngajak nyokap ke salon muslimah langganan dia sama toko perlengkapan rumah tangga favoritnya.

Masih terkait kasih sayang ibu nih, bagaimana tulusnya kasih sayang ibu itu, pernah kan dengar lagu yang sering di iklan di TV “Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia” . Saya suka dengar lagu ini, dan kemudian melihat kasih sayang ibu kepada anak-anaknya, saya  betulan bagaikan sang surya yang  menyinari dunia, bagaimana tidak, saya beri contoh nyata nih, Saudara lelaki sulung saya dari kecil rada unik kepribadiannya, beda dengan kami-kami, dia anaknya pemalu, tak suka bersosialisasi dengan keluarga,  malah dia lebih suka akrab sama non keluarga alasannya karena kalau keluarga kan sudah jelas ada hubungan darah kalau diluar keluarga berarti lebih penting untuk dikenal, elleh aneh kan,  tapi orang tua saya tetap sayang  donk, care dan support sekolah hingga si Abang kelar S2.  Saat selesai kuliah pun ibu saya mau mencarikan dia jodoh atau bahkan berinisiatif menikahkan  jika si Abang  ini sudah punya calon. Maklum waktu itu usia si Abang sudah waktunya menikah.

Ternyata si Abang  ini bersikeras untuk tak perlu di jodoh-jodohkan, nanti dia urus sendiri dirinya, itu kata Abang saya, dan  sempat Abang  saya merantau ke kalimantan sebelum di hijrah ke salah satu pulau di Ambon sana, kebetulan ada peluang jadi dosen, karena Abang saya tak pernah tertarik untuk melamar pekerjaan lain waktu itu. Orang tua sempat galau karena sang Abang setelah lulus S1 nya cuma mengganggur dan akhirnya memutuskan lanjut S2.

Akhirnya dengan berat hati orang tua saya melepas Abang saya berangkat kesana, sebenarnya ibu saya mau semua anak-anaknya ya disini saja tak usah jauh-jauh, boleh merantau kata ibu saya asalkan kota rantau itu ada bandaranya biar bisa mudah di jenguk,coba alangkah tulusnya kasih ibu itu. Toh sang Abang saya ini malah tak pernah mau kalau ibu saya datang kesana, alasannya tak ada bandara cuma pelabuhan dan butuh menyebrang lagi dengan kapal ferry lalu naik darat ke tempat dia. Selama dua tahun pertama Abang  saya cuma berkomunikasi dengan kami via telpon saja, sempat dia pulang sekali.

Masih ingat tidak tragedy Tsunami melanda Jepang ? tahun 2009 kalau tak salah, yang akhirnya memicu kepanikan tragedy lanjutan sampai ke Philipine dan ke Indonesia. Sampai isu di Manado dan beberapa kota pantai lainnya akan terjadi hal yang sama, sampai waktu itu kami yang jadi penduduk Manado melarikan diri ke atas bukit gara gara isu tsunami tersebut. Dan hal ini pula lah yang akhirnya memaksa Abang saya menelpon ibu saya membuat pengakuan. Mungkin waktu itu si Abang ini mikir kalau kena bencana tsunami dan akan sangat berdosa besar kalau belum memberi pengakuan ke ibu saya.

Akhirnya  pengakuan pun terjadi Eng Ing Eng, bahwasanya sang Abang sebenarnya sudah nikah sejak 2 tahun lalu, dia menikahi salah satu anak gadis di tempat dia merantau dan saat ini sudah punya putra saat itu, ibu saya yang menerima telpon waktu itu hampir pingsan loh, bagaimana tidak sok, si Abang sulung ini sudah digadang-gadang di tungguin buat nanti dinikahkan ternyata sudah nikah duluan dan tanpa ngabari kami semua. Arghhhhhh saya saja emosi dengarnya….. Alasan sang Abang tak mau repotkan orang tua, apalagi jauh, transportasi kesana susah. Memang abang  saya ini rada unik dibanding kami kami.

Sebagai orang tua, bapak ibu saya walau kaget diawal dan dongkol namun karena ketulusan cinta mereka akhirnya tetap menerima keputusan Abang saya, dan walau ibu sampai saat ini belum pernah bisa mengunjungi sang Abang  yang terkesan tak mau di kunjungi dengan alasan ini itu, ibu saya dengan penuh kasih, tiap tahun mengirimkan kado buat sang cucu pertama dan cucu kedua, bahkan pernah di belikan sepeda, baju, mainanan dan makanan dan dikirim via ekspedisi kesana. Saya aja kadang kadang kalau di mintai ibu ngirimkan sesuatu bersungut-sungut dulu bukan tak mau menuruti ibu saya tapi kesal sama si Abang ini, susah sekali dikontak.Maklum tinggalnya di remote area.

Kemarin saja saat ibu sebelum berangkat  kesini, ibu sudah sibuk suruh saya cek jadwal kapal  soal keberangkatan kapal kesana, karena ibu saya sudah beli banyak oleh oleh dan paket buat sang kakak dan dua anaknya. Walau sang istri Abang  tak pernah di pertemukan atau dikirimkan fotonya ibu saya tetap tulus belikan pakaian atau hadiah buat mantunya yang tak pernah dilihatnya… Ayooo kurang apalagi kasih sayang seorang ibu itu, anak menikah tanpa beritahu ibu, mantunya tak pernah dikenalin masih juga ibuku dengan tulus kirim hadiah, padahal saya sebagai adik kadang dongkol sama kakak saya ini.

Apa sih  susahnya kenalin kita ke istrinya, via foto kek, via telpon kek, sekarang nih dah jamannya skype-an, gemes deh,  ada ada saja Abang saya ini ya, tapi yang saya salut ibu saya, kasihnya bagaikan sang surya menyinari bumi dan tak pernah harap kembali. Itulah kasih sejati, sama juga dengan Mami mertua saya, Maminya MB, kasih nya tiada tulus buat sang anak, saya selalu ingat kata kata mami ” Mau kemanapun anak saya pergi merantau, asal kan dia bahagia, agama apapun pilihan yang dianut, asalkan dia bahagia dengan pilihannya maka saya sebagai ibunya pun akan merestui dan selalu mendoakan yang terbaik untuknya “ pengen nangis deh kalau ingat kalimat ibunya MB ini, kadang saya yang merasa bersalah misahkan MB dan ibunya, sebenarnya kita mau ajak mami hijrah kesini, tapi melihat kondisi di Indonesia nampaknya kurang cocok buat Mami yang sudah berumur. Makanya kami bela belain rencana jenguk kesana.

Melihat kasih dari kedua ibu saya diatas sebenarnya cuma mau meremind bahwa, ketika masih diberi kesempatan, maka bahagiakanlah selagi moment itu masih diberikan……….. ! walau agak telat saya tetap ingin mengucapkan untuk kedua ibu saya, dan semua  ibu dan calon ibu di dunia ini “selamat hari ibu ya, dunia ini tak akan indah tanpa kasih kalian”

 

 

Advertisements

Tagged: , ,

7 thoughts on “kasih ibu

  1. Firsty Chrysant May 16, 2014 at 5:55 am Reply

    Emang ya seorang ibu cintanya selalu tak habis-habis untuk anaknya…

    • siti May 16, 2014 at 9:58 am Reply

      Betul sekali say……..!!! peluk ibu masing2 😉

  2. Ceritaeka May 16, 2014 at 11:33 am Reply

    Ah, antara sedih campur baru bacanya, Mbak.
    Btw semoga ibundanya dapat kapal supaya bisa ketemu sama si Abang, menantu dan dua cucunya ya… *Amin*

    • siti May 16, 2014 at 11:36 am Reply

      iya, tapi ibu saya tidak kesana, nanti abang saya janji mau bawa cucunya kesini.. malah mau nitip disekolahin segala ibu saya malah senang…. benar benar tulus tanpa pamrih… anyway makasih dah mampir kesini…

      • Ceritaeka May 17, 2014 at 1:09 am

        Wow. Salam hormat buat ibunya ya, Mbak…

  3. Pursuingmydreams May 16, 2014 at 11:51 am Reply

    Walaah bgm sis abang 😀 padahal masih di Indonesia ya, belum beda benua, masa ga ngabarin ibu kalau udah nikah. Ibu mbak Siti baik sekali ya, bisa menerima keputusan abang merahasiakan pernikahan dia.

    • siti May 16, 2014 at 11:53 am Reply

      hahah iya mbak, memang abang saya dari unik dan lain dari pada yang lain, sepanjang dia bahagia ya itu pilihan dia lah..mau marah juga sudah kejadian kan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Life

Intermittent Fasting & Ketogenic

franyfatmaningrum

frany WordPress.com site

Life is a Rollercoaster

My Blog, My Stories

Thekitten

Indonesian Story

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

American & Indonesian = US

All about Our Life, he is American & I am Indonesian

%d bloggers like this: