Advertisements

Explore Maluku Part 6 #Masjid Tua Wapauwe, Nafak tilas sejarah kejayaan Agama Islam di Maluku


ampak Masjid Tua Wapauew

ampak Masjid Tua Wapauew, negeri Kaitetu, Kec Leihitu Kabupaten Maluku Tengah

Masjid Tua Wapauwe, Nafak tilas sejarah kejayaan Agama Islam di Maluku

Alhamdulilah setelah resmi hampir 6 bulan domisili di Ambon saya dan MB akhirnya bisa juga menyelami kejayaan Islam masa silam di Kepulauan Maluku, Masjid Tua Wapauwe, masjid yang di percaya tertua di Indonesia, menilik sejarah didirikannya pada tahun 1414 M, tepatnya sudah berusia 603 tahun ( 2017 ) sudah melewati masa enam abad. masa silam Masjid Tua Wapauwe adalah masjid  yang sangat bersejarah dan merupakan masjid tertua di Maluku. Umurnya mencapai tujuh abad. Menjadi symbol kejayaan Agama Islam di Maluku dan masih kokoh berdiri hingga saat ini.

Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha ( Propinsi Maluku Utara ) .Yang dayang menyebarkan siar islam ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, Beliau datang untuk menyebarkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Negeri Assen, Negeri Wawane, Negeri Atetu, Negeri Tehala dan Negeri Nukuhaly, yang sebelumnya sudah ada siar Islam yang dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.Menilik sejarah bahwa Syiar Islam banyak dilakukan di daerah Pesisir laut yang dilakukan pedagang dari Tanah Arab. Mengingat negeri Hitu memang memiliki posisi sangat strategis wilayahnya paling utara kepulauan Ambon dan berhadapan dengan kepulauan Seram.

Tampak Depan Masjid Tua Wapauwe

Tampak Depan Masjid Tua Wapauwe

Sejenak saya banyak tertegun menembus kilas ruang dan waktu ke masa lalu dan melihat peta bagaimana kepulauan Maluku ini menjadi sangat menarik dan strategis  posisi nya di jaman dahulu yang akhirnya dalam sejarah ragam negara besar datang dan menjajah dan bahkan membawa misi agama untuk di sebarkan.

Lokasi Peta Masjid Tua Wapaune, Negeri Kaitetu, Leihitu, Maluku Tengah

Lokasi Peta Masjid Tua Wapaune, Negeri Kaitetu, Leihitu, Maluku Tengah

Lokasi Masjd Tua Wawane ini ada di negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Jarak tempuh dari pusat kota Ambon sekitar 35 km. Ditempuh dalam waktu 1 jam, jalan yang ditempuh adalah jalan aspal yang mulus walau ukurannya tak terlalu lebar, tapi saya cukup bangga bilang bahwa dari keseluruhan petualangan saya di kepulauan Ambon dan mengelilinginya saya cukup puas dengan jalan nya yang mulus tanpa lobang, di spot jembatan yang pernah di landa banjir bandang memang kami melewati sekitar 20 meter jalan batu batuan namun setelahnya semuanya mulus, Cuma harus berhati hati karena, para pengendara di kota Ambon itu sangat cepat membawa kendaraan biar di jalan propinsi yang berkelok kelok dan di kiri kanannya hutan. Jadi biar pelan saja asal selamat ya.

Tampak pintu memasuki Masjid Wapaune

Tampak pintu memasuki Masjid Wapaune

 Rute yang saya lewati adalah menyusuri jembatan merah putih terus menerus dan belok kanan di arah patung J. Leimiena dan  jalan terus. Akan melewati Hitu Messing, Hitu Lama, Wakal, sepanjang jalan bisa menikmati pemandangan rumah penduduk banyak berjualan maupun di tiap dusun bisa dilihat ada masjid, wilayah ini memang mayoritas penduduk muslim. Dan saat sampai di bagian  sisi utara kepulauan Ambon tampak hamparan laut tenang yaitu Teluk Piru ( Piru Bay ) atau teluk baguala, sungguh indah, ada beberapa spot tempat duduk santai dan makan kelapa. Memasuki daerah hila kehidupan pesisir sudah sangat Nampak. Memasuki dusun itu kami juga melewati masjid Jami, yang Nampak arsitekturnya cukup indah dan sebagian bangunan terbuat dari kayu yang di ukir.  Tak jauh dari masjid Jami tersebut kami pun sampai di Masjid Tua Wapauwe.

Prasasti di halaman masjid Wapaune

Prasasti di halaman masjid Wapaune

Letaknya di ujung jalan, di depan masjid ada gerbang bertuliskan Masjid Wapauwe.Mobil kami parkir depan gerbang kami memasuki halaman masjid yang seukuran bangunan masjid, tampak dua prasasti besar berdiri  ada satu prasasti dua bahasa menjelaskan pembangunan masjid dan sejarahnya. Prasasti yang kedua adalah informasi dari pemerintah  untuk warning ke masyarakat untuk tidak merusak atau mencuci benda benda bersejarah di tempat itu karena di lindungi UU dan denda tak main main buat pelakunya.

Beberapa tiang asli yang di pajang di serambi Masjid

Beberapa tiang asli yang di pajang di serambi Masjid

Menara asli yang disimpan di serambi kini diganti menara baru

Menara asli yang disimpan di serambi kini diganti menara baru

Lampu gantung pemberian Portugis depan mimbar

Lampu gantung pemberian Portugis depan mimbar

 

Di bagian teras masjid yang juga beratapkan rumbia ada menara pertama masjid tersebut yang masih asli terbuat dari kayu merah. Dan ada beberapa 8 tiang yang mereka pajang, menurut Yus, yang menjelaskan sejarah masjid dan masih keturunan Keluarga turun temurun hidup di samping masjid tersebut, Lalu ada sumur juga untuk berwudhu disediakan juga beberapa keran air untuk wudhu. Bagian serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

Di bagian dalam masjid tampak sajadah warna warni di seluruh lantai yang berukuran 10x10meter, masuk ke dalam lantainya agak tinggi di depan pintu masuk sudah disambut dengan lampu kuno antik kuningan, jadi beberapa sumbu di letakkan diatas dan diberi minyak dan sumbunya dibakar, ini adalah kuningan yang asli dan ada sejak masjid ini ada,  ke bagian kiri seblah pintu di dalam lemari ada timbangan zakat fitrah yang dulu digunakan untuk menimbang zakat fitrah warga saat ramadhan, serta ada batu untuk bakar dupa di bagian kiri. Lalu di samping kanan lemari ada tongkat asli yang digunakan setiap khutbah jumat oleh pemuka agama di masjid ini. Dan dalam sebuah kotak kayu ada naskah Alquran tertua lebih detail tentang mushaf ini saya ambil dari wikipedi dibawah ini

Mushaf Alquran yang konon termasuk tertua di Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis (tangan) pada tahun 1550  dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan Mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun 1590, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas produk Eropa.

Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan Nur Cahya adalah cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf hasil kedua orang ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta, tahun 1991 dan 1995.

Selain Alquran, karya Nur Cahya lainnya adalah: Kitab Barzanzi atau syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sekumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah (peninggalan) serta manuskrip Islam lain yang sudah berumur ratusan tahun.

Kesemuanya peninggalan sejarah tadi, saat ini merupakan pusaka Marga Hatuwe yang masih tersimpan dengan baik di rumah pusaka Hatuwe yang dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak antara rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe hanya 50 meter. ( sumber : Wikipedia.co.id)

Sejarah Pemindahan Masjid

Menurut penuturan pak Yus juga dan dari wikipedia, masjid dipindahkan karena sejarahnya seperti dibawah ini,

Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580  setelah Portugis pada tahun 1512. Sebelum pecahnya Perang Wawane tahun 1643, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 km sebelah timur Wawane.

Asal Nama Masjid Wapauwe

Dan jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satupun daun yang jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan di mana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan tidak terkecuali penduduk kelima negeri tadi. Proses pemindahan lima negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu

Proses Perpindahan Masjid Secara Ghaib

Menurut cerita rakyat setempat, dikisahkan ketika masyarakat Tehala, Atetu dan Nukuhaly turun ke pesisir pantai dan bergabung menjadi negeri Kaitetu, Masjid Wapauwe masih berada di dataran Tehala. Namun pada suatu pagi, ketika masyarakat bangun dari tidurnya masjid secara gaib telah berada di tengah-tengah pemukiman penduduk di tanah Teon Samaiha, lengkap dengan segala kelengkapannya. “Menurut kepercayaan kami (masyarakat Kaitetu) masjid ini berpindah secara gaib. Karena menurut cerita orang tua-tua kami, saat masyarakat bangun pagi ternyata masjid sudah ada,” kata Ain Nukuhaly, warga Kaitetu. Sementara itu, kondisi Mushaf Nur Cahya beserta manuskrip tua lainnya tampak terawat meskipun sudah mengalami sedikit kerusakan seperti berlobang kecil, sebagian seratnya terbuka dan tinta yang pecah akibat udara lembap.

Arsitektur Masjid Wapaune

Masjid yang masih dipertahankan dalam arsitektur aslinya ini, berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Letaknya di antara pemukiman penduduk Kaitetu dalam bentuk yang sangat sederhana. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu  yang kering) dan beratapkan daun rumbia tersebut, masih berfungsi dengan baik sebagai tempat ber-salat Jumat maupun salat lima waktu, kendati sudah ada masjid baru di desa itu.

Di bagian mimbar masjid tampak bendera merah putih mengapit di sisi kanan dan kiri konon cerita jaman masjid ini dari awal sudah ada di mimbarnya bendera merah dan putih padahal ini ada sekitar abad ke 17 jaman penjajahan Belanda.  Di bagian 4 pilar utama di cat 3 warna kesukaan Nabi Muhammad SAW yaitu hijau kuning muda dan pink muda.Ada dua jendela di sisi kiri dan kanan, dan persis dibelakang mimbar bagian atas tergantung lampu antic yang konon hadiah dari Portugis, warnanya silver / perak, seperti biasa lampu yang diberi minyak dan di beri sumbu untuk dinyalakan, yang unik bagian lampu ini bisa ditarik kebawah.Namun karena zaman sudah modern maka bagian atas ditambahkan bohlamp lampu neon putih buat penerangan dalam masjid jika malam hari.

Di sisi kanan pintu masuk masjid ada bedug besar seukuran 1 meter panjangnya dan masih digunakan hingga kini, ini juga beberapa kelengkapan yang berpindah dari masjid Wapaune ke lokasi sekarang. Bentuknya masih utuh dan di sisi dinding ada 3 pemukul bedug ukuran 30 cm.

trade online

Pak Yus melanjutkan kisahnya bahwa pernah ada orang iseng mencuri lampu kuningan bagian di depan pintu namun yang mencuri akhirnya sakit parah terus menerus dan akhirnya mengembalikan kembali ke tempatnya.

Secara sedehana bisa di nonton di youtube berikut ini :

Di depan pintu diletakkan kotak donasi buat pengunjung atau siapapun yang datang kesana, dan setelah puas foto foto saya pamitan dengan pak Yus yang banyak memberikan informasi terkait masjid tua Wapaune. Semoga lestari sampai akhir zaman. Kami pun lanjut ke lokasi wisata sejarah berikutnya Gereja Emmanuel Hitu.

BANNER FREE MEMBER

Beberapa artikel terkait wisata sejarah di Maluku bisa di baca :

Advertisements

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Life

Intermittent Fasting & Ketogenic

franyfatmaningrum

frany WordPress.com site

Life is a Rollercoaster

My Blog, My Stories

Thekitten

Indonesian Story

rumah matahari

"sebab tiap kata adalah rumah doa, maka semoga hanya ruh kebaikan yang menjadi penghuninya."

Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

American & Indonesian = US

All about Our Life, he is American & I am Indonesian

%d bloggers like this: